Wayamiga, Bacan Timur. Dodominews.com– Umat Kristen pada Minggu Sengsara ke-4 diajak merenungkan firman Tuhan yang diambil dari Injil Lukas 22:54–62 dengan judul “Petrus Menyangkal Yesus.” Firman ini mengangkat kisah pergumulan iman Simon Petrus ketika ia menyangkal Yesus Kristus sebanyak tiga kali di tengah tekanan situasi saat Yesus ditangkap.
Dalam khotbahnya, Pdt. Eklesya Taihuttu/Mairuhu menegaskan bahwa kisah Petrus bukan sekadar cerita kegagalan seorang murid, tetapi cermin kehidupan iman setiap orang percaya. Melalui tema mingguan “Pandanglah Tuhan dan Bertobatlah,” jemaat diajak melihat kembali relasi mereka dengan Tuhan di tengah berbagai tekanan hidup.
Poin pertama yang ditekankan adalah peringatan agar umat tidak menciptakan jarak dengan Tuhan. Dari kisah Petrus terlihat bagaimana rasa takut dapat membuat seseorang menjaga jarak secara spiritual dari Yesus. Ketika ancaman datang, seseorang bisa saja bersikap seolah-olah tidak mengenal Kristus, baik melalui perkataan maupun melalui sikap hidup.
Selanjutnya, khotbah ini mengingatkan bahwa tekanan dan krisis sering menjadi ujian bagi iman.Dalam situasi sulit, manusia kerap tergoda untuk menyangkal identitasnya sebagai pengikut Kristus. Ketakutan menjadi musuh terbesar dalam perjalanan iman, terutama ketika seseorang khawatir kehilangan kenyamanan hidup, pekerjaan, atau penerimaan sosial karena diketahui sebagai pengikut Yesus.
Namun kisah Petrus tidak berakhir pada penyangkalan. Injil mencatat bahwa setelah Petrus menyangkal Yesus untuk ketiga kalinya, Yesus memandangnya. Tatapan itu menjadi momen yang menyadarkan hati Petrus. Ia pun keluar dan menangis dengan sangat sedih.
Menurut pengkhotbah, tatapan Yesus adalah simbol kasih yang memanggil manusia untuk bertobat. Pertobatan sejati dimulai ketika seseorang berhenti membela diri dan berani mengakui kesalahan serta keberdosaannya di hadapan Tuhan.
Karena itu, pesan utama dari firman ini adalah panggilan bagi setiap orang percaya untuk kembali memandang kepada Tuhan. Dalam tatapan kasih Kristus, manusia menemukan pengampunan sekaligus kesempatan untuk memulai hidup yang baru.
Melalui refleksi Minggu Sengsara ini, umat diajak untuk tidak membiarkan ketakutan menjauhkan mereka dari Tuhan, tetapi justru menjadikan setiap pergumulan sebagai kesempatan untuk semakin mendekat kepada Kristus. Sebab ketika seseorang memandang Tuhan dengan hati yang terbuka, di sanalah dimulai jalan pertobatan yang membawa kepada pemulihan dan kehidupan yang diperbarui. (Redaksi).

